DESA

3 TON MADU MASYARAKAT NANGA SUHAID MENUNGGU INVESTOR

Laporan KIM Entugan Hulu
A. Hartawansyah Praniansyah

Informasi Suhaid. Masyarakat petani madu desa nanga suhaid saat ini berada pada dilema, kenapa demikian ? Kelompok tani madu dibawah naungan Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS ) ini memiliki kurang lebih 3 ton madu, sebagian telah dibawa oleh petani ke rumahnya untuk diusahakan bisa terjual dan mendapatkan investor jangka panjang.

” Dalam APDS ini banyak kelompok, dan saya salah satu ketua kelompok dari masyarakat nanga suhaid yang saat ini bingung mengarahkan madu kami harus dijual kemana, ada 3 ton belum terjual, kami juga tidak tau kenapa APDS tidak merespon hal ini, dulu baik baik saja, dan ini dialami semua kelompok dibawah naungan APDS, kita berharap ada investor atau pembeli yang bisa bekerjasama dengan kami dalam jangka panjang, ini 2 -3 bulan kedepan kita sudah panen, madu kami siap untuk diuji lab, kami pastikan asli dan sesuai standar APDS. ” ungkap Jemain saat rapat bersama anggotanya dikediamannya. (25/10/2019).

Dilansir dari laman tribunpontianak.co.id,kapuas hulu, Kepala Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan (Pustanlinghut) KLHK, Noer Adi Wardojo menyatakan kegiatan Verifikasi Asosiasi Madu Hutan di APDS ini merupakan yang pertama di Indonesia.

“Pada tanggal 22 – 24 Februari 2019 kemarin, jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) bersama Pustanlinghut, memverifikasi APDS untuk mendapatkan Ekolabel Swadeklarasi Klaim panen lestari madu hutan dari Kementerian LHK,” ujarnya kepada wartawan, Senin (25/2/2019).

Kendati demikian, apa yang sebenarnya menjadi kendala APDS ini sehingga anggota kelompok dibawah binaannya merasa kesulitan dalam memasarkan madu.

Dalam Asosisi kenapa disebutkan Periau ? karena itu istilah untuk sekelompok petani madu tradisional yang mengelola madu hutan dan kawasannya, dalam bahasa setempat.

Pada umumnya saat ini, petani madu tidak hanya memanfaatkan sarang lebah dari pohon, mereka juga membuat tikung sebagai sarang lebahnya. Tikung adalah istilah untuk dahan buatan yang dipasang di pohon-pohon agar lebah bersarang di sana.

Menurut Jemain, tehnik pemanenan juga dilakukan sesuai standar APDS.

” kami telah mengikuti pelatihan, saat panen pisau untuk memanen juga tidak mengandung unsur logam, yaitu stailess antikarat, teknik pemotongan sarang lebar juga tidak sampai habis, dari bagian kepala madu sarang, bagian sarang yang berisi anak lebah tidak ikut dipotong karena dalam tiga minggu akan tumbuh kembali, untuk menghasilkan madu berkualitas, ada standar prosedurnya juga, kita harus menggunakan sarung tangan karet, wadah pengangkut tertutup dan saringan”.

Sampai informasi ini disampaikan, kami belum bisa menghubungi pihak APDS.

1 Comment

1 Comment

  1. Topan SR

    October 27, 2019 at 12:25 pm

    Miris sekali nasib petani madu lebah hutan ini ….
    Disaat masyarakat mulai menerima kehadiran wilayah kerja mereka dijadikan kawasan konservasi kembali para tangan penggenggam mempermainkan mereka. Jangankan konvensasi buat warga sekitar….
    Hasil alam yg dilegalkan yg merupakan salah satu produk penambah penghasilan warga pun mulai ditelantarkan !!!!
    Sementara kalau masyarakat salah sedikit menyimpang dari aturan konsevasi penjara lah tempatnya
    Innalillahi wa wainnailaihi rajiun 😭😭😭

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top